
Nabi
Yeremia
Juga dikenal sebagai: Nabi yang Menangis, Yeremia bin Hilkia

Nabi
Yeremia — Nabi yang dipanggil sebelum lahir namun dipenuhi keraguan, mengabarkan penghukuman selama empat puluh tahun tanpa dilihat hasilnya—dan yang menubuatkan perjanjian baru yang digenapi dalam Yesus.
Yeremia dipanggil menjadi nabi sejak masa mudanya, bahkan Allah berkata: 'Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.' Respons Yeremia adalah keberatan yang jujur: 'Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku masih muda.' Allah menjawab dengan tegas—Dia akan menyertai dan menolongnya. Namun Yeremia tetap menjadi sosok yang paling jujur tentang beban pelayanan: ia mencatat keputusasaan, kemarahannya kepada Allah, dan keinginannya untuk berhenti.
Pelayanan Yeremia berlangsung empat puluh tahun yang menyakitkan. Ia menubuatkan kejatuhan Yerusalem dan pembuangan ke Babel—pesan yang membuat para pemimpin marah, imam-imam memukulnya, dan bangsanya menganggapnya pengkhianat. Ia dilarang menikah sebagai tanda bahwa masa depan Israel suram. Gulungan pesan-pesannya dibakar oleh raja—dan Yeremia harus mendiktekannya lagi kepada juru tulisnya. Ia pernah dijebloskan ke dalam sumur berlumpur dan dibiarkan tenggelam.
Di tengah puing-puing kehancuran, Yeremia menubuatkan harapan yang paling indah: sebuah perjanjian baru. 'Ini adalah perjanjian yang akan Kuadakan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.' Nubuatan ini—digenapi dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus—adalah warisan terbesar Yeremia. Ia tidak melihat buah pelayananya dalam hidupnya; namun kata-katanya hidup hingga hari ini.