
Musa dan Laut Merah
Ketika tidak ada jalan ke depan, ke belakang, ke kiri, maupun ke kanan — TUHAN membuat jalan baru.
Israel telah keluar dari Mesir setelah sepuluh tulah yang menghancurkan — namun kebebasan itu terasa sangat singkat. Firaun menyesal telah membiarkan budak-budaknya pergi dan memerintahkan seluruh pasukan untuk mengejar.
Terjepit dari Segala Arah
Orang Israel terjebak: di depan Laut Merah, di kanan dan kiri bukit-bukit berbatu, dan dari belakang derap kaki pasukan Mesir. Kepanikan menyebar. Mereka berseru kepada Musa dalam keputusasaan: 'Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati?'
Janganlah takut, berdirilah dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.
— Keluaran 14:13–14

Laut Terbelah
Musa mengangkat tongkatnya — dan TUHAN mengirimkan angin timur yang kencang semalaman, mengeringkan laut dan membelahnya. Air terpisah menjadi tembok di kanan dan di kiri, dan orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di atas tanah yang kering.

Nyanyian di Tepi Seberang
Pasukan Mesir mengejar ke dalam belahan laut itu — dan air kembali menghempas, menenggelamkan seluruh pasukan Firaun. Penyeberangan Laut Merah menjadi peristiwa pembentuk identitas Israel — momen ketika tidak ada jalan, namun Allah membuat jalan baru. Paulus melihat penyeberangan ini sebagai bayangan baptisan: mati terhadap perbudakan lama dan lahir ke dalam kebebasan baru.