
Kebangkitan Lazarus
'Akulah kebangkitan dan hidup' — bukan sekadar janji masa depan, melainkan kuasa yang nyata sekarang.
Maria dan Marta mengutus utusan kepada Yesus dengan pesan singkat: 'Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.' Yesus menerima berita itu dan — mengejutkan semua orang — sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena Ia tahu yang akan terjadi bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang membuat orang banyak percaya.
Akulah Kebangkitan dan Hidup
Yesus berkata kepadanya: 'Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.'
— Yohanes 11:25–26
Ketika akhirnya Yesus berangkat, Lazarus sudah mati empat hari. Marta menyambut Yesus dengan campuran iman dan kekecewaan: 'Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.' Yesus menjawab dengan klaim yang menjadi salah satu pernyataan terbesar dalam seluruh Alkitab.

Yesus Menangis
Ketika Maria menjatuhkan diri di kaki Yesus dan menangis, Yesus pun menangis. Ayat terpendek dalam Alkitab — 'Yesus menangis' — mengungkapkan bahwa Allah tidak jauh dari air mata manusia. Ia tidak hanya mengurus urusan besar alam semesta; Ia ikut merasakan duka yang terdalam.
Lazarus, Keluarlah!
Yesus berkata dengan suara keras: 'Lazarus, keluarlah!'
— Yohanes 11:43

Di depan kubur yang ditutup batu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan suara keras — agar orang-orang di sekitar-Nya percaya. Lalu Ia berseru: 'Lazarus, keluarlah!' Dan orang yang sudah mati itu keluar. Kebangkitan Lazarus adalah gambaran dari apa yang akan Yesus lakukan bagi seluruh umat manusia — bahwa bagi mereka yang percaya kepada-Nya, kematian bukanlah akhir dari cerita.